Buat gadis selugu dan sepemalu Arin, lingkungan baru membuat dia kesepian banget. Arin memang gadis yang terkesan jutek *kesan pertama begitu….jutek* tapi kalau sudah kenal, bisa segala diomongin, ya…tergolong bawel lah. Sepintas memang aneh, tapi kalau dia dah merasa disayangi oleh seseorang, arin sangat takut untuk menolak permintaannya, dia akan lakukan apa saja yang diminta orang yang sudah baik kepadanya.
Hari pertama Arin masuk SMA, masa menginjak pra dewasa, masa buat pengen coba-coba karena rasa ingin tahu Arin yang segede gunung, gunung apa ya?*mikir sambil garuk2 kepala*, termasuk dalam hal pacaran juga.
Satu semester sudah berlalu…banyak kegembiraan yang dilalui arin. Dia mendapat banyak teman, sekaligus seorang teman dekat alias kekasih, sebut saja Fery. Meskipun orang tuanya begitu keras melarangnya untuk tidak pacaran dulu, tapi dia memilih untuk backstreet, lari sana lari sini, bohong sana bohong sini ketika harus pergi jalan-jalan atau hanya sekedar bertemu Fery sang kekasih.
Orang tua Arin keras mendidiknya dalam hal pergaulan, di sisi lain orang tua Fery begitu bebas mempersilahkan anaknya berpacaran. Merekapun banyak menghabiskan waktu berdua di rumah Fery.
Waktu berjalan cepat, hari demi hari dilalui Arin dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Prestasi sekolahnya pun tidak terlalu mengecewakan, rangking sepuluh besar selalu dia raih. Arin di mata orang tuanya adalah anak yang sangat manis dan baik, memang begitulah arin sebelum akhirnya dia mengenal dunia berpacaran, dia mulai mengenal pegangan tangan, mulai mengenal cipika cipiki , dan akhirnya hal-hal yang lain, yang sangat di larang oleh agama yaitu mendekati zina.
Sampai pada suatu saat, masalah pun muncul diantara mereka, hubungan mereka akhirnya menemui jalan buntu, hubungan mereka kandas dan kesedihan pun menimpa arin.
Hari-harinya dilalui dengan menangis ketika harus tak sengaja melihat dan berpapasan dengan mantan kekasihnya. Kekecewaan pun muncul, rasa sesak di ujung tenggorokan, rasa sakit di hati arin membuat air mata membanjiri kedua pipinya tanpa arin inginkan.
Tiga bulan dilaluinya dengan kesedihan dan menangis ketika teringat hubungannya yang kandas. Akhirnya dia menyadari kekeliruannya dan mau menerima kenyataan pahit yang harus dia terima. dia pun menyadari hikmah dari semua kejadian ini.
Arin menyadari bahwa Allah senantiasa mendengarkan keluh kesahnya, menjawab do’anya yang selama ini arin minta, walaupun arin telah banyak melakukan dosa, dosa yang sangat dia sadari sepenuhnya. Allah memberi jawaban atas do’anya, Allah menunjukan kasih sayangnya pada arin dengan segera memutuskan hubungan mereka yang sudah jauh dari nilai-nilai agama. Arin berpikir…jikalau arin melanjutkan hubungannya, mungkin keperawanan yang merupakan mahkota seorang wanita akan terenggut, arin menyadari Allah masih menyayanginya.
Arinpun melanjutkan kehidupannya dengan berusaha bersemangat membangun kepercayaan dirinya untuk bangkit dari keterpurukan akibat dari semua yang telah terjadi pada arin selama ini. Dia selalu merasa di kejar-kejar dosa yang telah dilakukan selama berpacaran. Hatinya selalu tidak tenang, teringat dosa dan siksa, walaupun dia telah bertaubat.
Dari semenjak itu, arin berniat untuk tidak akan pernah berpacaran lagi, cukup hanya niat untuk menikah sajalah, pacaran sudah di hapus dari kamus pribadi arin.
Tulisan ini di buat untuk seseorang yang alhamdulillah telah menyadari bagaimana indahnya islam mengatur pergaulan, never give up ya……
Sahabat…..yuk kita sama2 belajar untuk jadi orang tua yang bijaksana. yuk ade2 belajar untuk menata pergaulan dengan sebaik mungkin sesuai dengan syariat, Allah akan selalu menolong hambaNya yang ridho akan taqdirNya.
seseorang?hasil pengamatan yah bu, eh jangan jangan pengalaman nih?…he..he.., tiasaan ibumah…
Lina: euh….kang jangan membentuk opini publik atuh, bahaya…..
Pertanyaanku. Apa hubungan t’na sama Arin?
Lina: Hubungannya apa ya? Biar yg tau mba aja ya, kan kmu bilang hrs jaga rahasia org de. Mudah2an yg baca tulisanku itu bisa ambil hikmahnya
alhamdulillah…
untung aku belum pernah pacaran, dan semoga selalu begitu.
sampai aku menikah kelak.
Lina: Amiin….